Posted by : Unknown
Senin, 29 Desember 2014
Yoooo minna-chwan ohayou! Di pagi yang sangat cerah ini saya akan memposting sebuah fanfiction atau biasa disingkat ff karya kaichou kita,Mega Kusuma-senpai.Bagus loh,banyak makna dan amanat yang terdapat pada ff ini.So tanpa perlu basa basi lagi,inilah ff karya Mega-senpai,enjoy reading minna-san!
IKITE
Kagamine Len &
Nakajima Gumi
kmxp
.
Agar tidak hancur, terkadang orang-orang lebih memilih
menjadi batu. Ah, aku pikir itu jauh lebih baik, walau pada akhirnya mungkin
batu tetap akan dihancurkan oleh waktu.
Dia tersenyum, memamerkan lengkung riang yang memikat.
Tampak menikmati hidup. Orang-orang disekitarnya ikut terbawa, tertawa dalam
lengkungan hangat.
“Ayahku membelikanku sepasang sepatu dari Prancis!” katanya
riang. Dipamerkannya sepatu mengkilat yang manis dengan pita sebagai hiasannya,
yang lain berdecak kagum, ada pula yang memandang iri.
Tapi di dunia ini, tidak ada orang yang tidak memiliki
masalah bukan?
Tepat tiga hari setelah sepasang sepatu itu menghiasi
kakinya, ayahnya dipanggil kepolisian, gosip mengatakan ia terjerat kasus
penggelapan uang.
Dan decak kagum orang-orang berubah menjadi tatapan hina dan
merendahkan. Gadis itu terbiasa dengan cahaya, jadi tak ada yang bisa dia
lakukan ketika cahayanya menghilang.
Tapi dia masih berdiri di sana, memamerkan senyum riang
secerah mentari, menggantikan cahaya yang hilang, atau malah memanipulasinya.
Aku yakin dia tahu, bahwa dia sudah mahir berekspresi.
Seperti bagaimana dia menggunakan senyumnya di saat orang-orang menghinanya,
atau bagaimana dia berpura-pura bingung ketika orang-orang mencemoohnya.
Dan seperti hari ini, aku yakin Meiko-sensei tidak
memberikan tugas, tapi dia malah menyibukan dirinya dengan buku yang dibaca terbalik. Dia hanya berpura-pura sibuk
agar dia tidak terlihat bodoh dengan kesendiriannya.
Aku tahu kau sedang bertahan, tapi sampai mana kakimu bisa
berdiri tegak?
Lalu dia menemukan ibunya mengelantung di langit-langit
rumahnya, dengan seutas tali, dengan lidah terjulur. Dia jatuh, terduduk, dan
tangisnya pecah...
Semua orang menjauhinya. Semua orang menghinanya. Dia
sendirian.
Menakutkan, sangat menakutkan berdiri sendirian, bukan?
Jadi aku berpikir, untuk setidaknya menghiburmu, membacakan
dongeng tentang putri dan pangeran yang selalu berakhir bahagia.
“Jangan lari.” Kataku, aku tidak tahu apa dia mendengarku
apa tidak.
“Siapa? Lari dari apa?” dia menoleh cepat dan menurunkan
buku bacaannya, wajahnya dia buat seriang mungkin. Pembohong.
“Langit yang cerah, Nakajima-san.”
“Ne, Kagamine-san, apa yang disebut dengan hidup?” lagi dan
lagi, dia memamerkan lesung pipinya yang malah terlihat menyedihkan. Aku
terdiam tanpa jawaban.
.
Sampai suatu ketika, dia menjatuhkan topeng emas
kebanggaannya dan memamerkan pergelangan tangan yang tergores banyak.
“Aku percaya padamu.” Dan jauh di dalam hatinya dia
menangis, banyak sekali. Tapi dia kembali berbohong, sambil tersenyum dia
berkata seolah-olah dipercayai seseorang adalah hal yang wajar baginya.
Tapi bukankah di dunia yang sederhana ini tak ada satu pun
orang yang mempercayaimu?
“Kalau kau ingin pergi, maka lakukanlah sekarang. Jangan
buat aku benar-benar percaya padamu, karna aku yakin, kau dan yang lainnya
pasti meninggalkanku.”
dia membukanya, kekhawatiran yang bagai kabut.
dia membukanya, kekhawatiran yang bagai kabut.
Lihatkan? Kau adalah gadis manis yang berlari karna ingin ditangkap,
dan setelah tertangkap kau menolaknya. Kau menolak keberadaan orang lain yang
padahal kau sangat membutuhkannya.
Kenapa kau tidak bisa berkata yang sejujurnya?
“Aku tidak akan menarik kata-kataku.”
Dia menoleh cepat, tatapannya kalut betul, “Aku tahu kau
ingin, lantas kenapa kau tak pergi? Kau sama ‘kan? Tersenyum ramah padahal muak
dengan keberadaanku, kenapa tidak kau hentikan ini semua? Jangan berbuat baik
seolah-olah kau benar-benar peduli padaku!”
Dia berlari. Tapi kali ini tidak untuk ditangkap, dia berlari
dan bersumbunyi agar orang-orang tak lihat bagaimana dirinya saat ditinggal
sendirian.
Lalu dia kembali bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa,
dia kembali memamerkan senyumnya, dia kembali menutup pergelangan tangannya
yang penuh goresan.
Tapi satu hal yang pasti, bahwa sekuat apapun, tak ada orang
yang bisa bertahan dengan kesendirian.
Jadi aku kembali membuka payungku, untukmu.
“Aku tidak bohong, tidak juga sedang membuat suatu
permainan. Aku tak sedang berempati padamu, aku tidak sedang berpura-pura, aku
tidak hendak menyakitimu.”
Air matanya mengalir, tapi hatinya tetap beku. Jauh di dalam
dirinya, dia menolak orang lain, dia hanya berpura-pura menerima semua dan
terseyum ramah.
Aku tahu, kamu takut, bukan?
Malam saat semua bintang tampak kekanakan memamerkan
cahayanya, di mana dia tidak bisa terlelap. Dia membayangkan pagi mengerikan
apa yang sedang menunggunya.
Kau menolak orang lain, agar kau tidak menyakiti mereka,
bukan?
Dia anak manis yang baik, baik sekali. Makanya aku ingin ada
di sampingnya, sekedar membacakan dongeng, bahwa akhir yang bahagia tak selalu
ada di sana.
Kau membohongi orang lain, agar mereka tidak menaruh percaya
padamu, maka kau tak akan mengecewakan mereka, bukan?
Kau jahati orang lain, agar mereka menjauhimu, dan kau bisa
sendirian, tanpa harus memainkan peran sebagai orang baik, bukankah melelahkan?
Dia tahu bahwa dia tak bisa menggenggam pasir, tapi
seseorang sedang membangun istana pasir, dan dia berjanji akan membantunya. Pada
akhirnya, sebanyak apapun dia berusaha, dia hanya akan tetap mengecewakan orang
lain, siapa yang butuh perjuangan? Semua orang hanya memimpikan hasil.
“Aku tidak bisa percaya pada orang lain,” dia menahan
tangisnya, “Apa kau tahu apa yang aku rasakan? Aku selalu menyesal, seandainya
aku tak merengek meminta sepatu dari Perancis pada ayahku, maka dia tak perlu
menggelapkan uang perusahaannya hanya untuk memenuhi keinginanku. Jika
seandainya ibu tidak menulis ‘tetaplah hidup’ di surat terakhirnya, maka aku
sudah menyusulnya dari dulu. Hancurkan saja aku...” dan dia benar-benar
menangis.
“Aku tetap percaya padamu.” kataku setengah berbisik.
“Apa kau masih bisa mengatakan hal itu jika kau tahu siapa
aku di tengah malam tanpa bintang? Apa kau masih berani mengatakan itu jika kau
tahu bahwa pergelangan tanganku dipenuhi goresan? Apa kau masih tetap di sini,
jika kau tahu semua penderitaanku? Bukankah kau hanya akan pergi? Kau tak
mengenalku sama sekali, tidak sepantasnya kau percaya pada orang yang belum kau
kenal! Pergilah sekarang, aku tahu kau ingin!”
“Aku percaya padamu, karna aku tahu betul semua kesedihanmu,
karna aku tahu betul, bahwa tidak ada seseorang yang bisa bertahan
dikesendirian. Aku percaya padamu, karna itu percayalah padaku!”
Dia mematahkan topeng emasnya, menghancurkannya, dan
menunjukkan raut wajahnya.
“Tinggalkan aku, kumohon... jangan kau lakukan hal seperti
ini... berhenti berbuat baik padaku... mereka juga mengatakan hal yang sama,
‘tidak perlu sungkan’ katanya, lalu aku mempercayainya, tapi mereka malah
memasang wajah yang seolah mengusirku. Aku tahu aku tak sekuat itu, aku tahu
aku tak bisa hidup seorang diri, aku tahu aku membutuhkan orang lain, tapi
sebelum aku mengetuk, orang-orang lebih dulu mengusirku, apa aku terlihat
serendah itu?”
Aku tak langsung menjawab. Membiarkan langitnya diwarnai
kelabu.
Di saat seperti ini, apa aku harus mengatakan ‘semua akan
baik-baik saja’?
“Lantas apa salah jika aku berhenti mempercayai orang lain?
Lantas apa salah jika aku berpikir sebaik apa pun seseorang dia tetap akan
merasa lelah dan jenuh padaku? Karna tak ada siapa pun yang mau menerimaku, aku
mulai berpikir bahwa semua orang pasti meninggalkanku, dan aku berusaha sebisa
mungkin untuk berdiri seorang diri, bahkan jika aku tahu itu mustahil.”
Kebohongan yang terkelupas seperti cat kuku. Hatinya yang
beku tak lagi menerima. Dia mamahat hatinya sendiri untuk menutup kalbu,
mengabaikan jeritan tangis siksanya sendiri. Dia berusaha kuat-tidak, dia hanya
sedang berpura-pura kuat.
Tak semua orang yang dimintai bantuan merasa kerepotan, itulah
yang kau tutupi, bukan?
Tapi terkadang manusia memang selalu dan selalu merasa tidak
puas akan dirinya.
Seandainya aku adalah bulan...
Seandainya aku adalah angin...
Seandainya aku adalah bunga...
Kita berkata seperti itu karna kita adalah manusia. Di hidup
yang sederhana ini, aku berpikir bahwa menjadi diri sendiri adalah sulit, tapi
yang tersulit adalah menerima diri sendiri.
Gadis itu tampak manis, dengan sepatunya yang datang dari
Perancis, dia tampak manis dengan senyum palsunya, dia tampak manis dengan air
mata penyesalannya. Jadi aku menggenggam tangannya, agar dia tidak hancur.
“Aku benci orang lain, aku berpikir bahwa hanya aku yang
tersakiti, menjijikan bukan? ” dia tersenyum dengan air mata di sudut matanya.
Walau berusaha kuat, walau melawan rasa sakit...
Mencoba mengabaikan kesendirian, aku tidak tahu bagaimana
dunia mengasahmu.
“Yang disebut hidup adalah semakin banyak air mata, maka
sebanyak itu pula terasa menyakitkan.”
Itu jawabanku dari pertanyaanmu tempo hari.
Angin mengantarkan awan yang berarak pada peraduan tak
berujung. Langit tak pernah lelah menjadi naungan ribuan bintang walau dia
hanyalah sebuah ‘naungan’ sekali pun.
“Kau berbohong untuk melindungi dirimu sendiri, kau terlihat
sangat bersinar ketikanya. Kau mengalahkan orang-orang yan menghinamu dengan
senyuman. Kau luar biasa.”
“Berhenti berkata seola-olah kau orang yang paling mengerti
tentang diriku! Aku tidak memohon untuk dilahirkan di dunia ini, lenyapkan saja
aku!” bahunya bergetar hebat. Telapak tangannya terus menutup raut wajahnya.
Air mata yang menggenang di sepatunya dan isakan yang terus mengiringi.
“Aku bukanlah orang baik...” katanya, dan dengan cepat aku
menjawab, “Aku pun juga, bukan orang yang baik. Tapi aku yang tidak baik ini,
ingin melihatmu bahagia.” Aku menjawabnya, dengan lembut dan tulus.
Kita menyakiti orang lain, karna takut disakiti, bukan?
“Yang disebut hiduplah adalah semakin banyak air mata, maka
sebanyak itu pula terasa menyakitkan. Tapi... yang disebut hidup adalah semakin
banyak air mata, maka sebanyak itu pula terasa mengagumkan, sebanyak itu pula
terasa menyakitkan dan mengagumkan.”
Dalam satu gerakan, aku mendekapnya. Aku membiarkan segala
tentang terkelupas. Tak ada lagi topeng emas, tak ada lagi kebohongan. Aku
ingin melihatnya semua kabut hitam yang ia tutupi dengan sangat baik.
Hangat menjalar ke dalam hati beku sang gadis manis. Kau
membiarkan hatimu hancur, dan kembali mengumpulkan kepingnya.
Tidak ada yang tahu mengapa kita dilahirkan ke dunia yang
terkadang menyakitkan ini. Bukankah dunia akan jauh lebih baik jika hanya diisi
oleh Malaikat? Lalu mengapa ada manusia yang hina? Mengapa kita lahir ke dunia
ini?
Entahlah. Seorang gadis mengajarkanku untuk tetap hidup
dengan sebaik mungkin.
Maka kumohon padamu,
Hiduplah.
~TAMAT~

Huaaaaaa nechaan~~~ nice as well! Pertamaxzz!! Ditunggu updatenya lagi~~~ :'3
BalasHapusIni terinspirasi dari lagunya aqua timez ikite :T
BalasHapusLegit ~
BalasHapus